Wednesday, November 9, 2011

Menguak Misteri Kiamat 2012 Dalam Kajian Sains (Tugas 3 Studium Generale)


Pembicara : Dr. Sarmoko Saroso, M.Sc

Latar Belakang

Dewasa ini, banyak isu yang beredar mengenai adanya Kiamat 2012. Isu-isu tersebut datang dari dalam dan luar negeri, bahkan disertai dengan bukti-bukti serta ramalan-ramalan yang mendukung akan terjadinya Kiamat. Hal ini membuat gempar dunia, terlebih pada orang-orang awam yang mengeluarkan respon berlebihan dengan adanya beberapa perkiraan yang seolah-olah memperlihatkan bagaimana dunia ini hancur. Isu-isu ini membuat kita merasa gelisah dan tidak nyaman, takut membayangkan apabila kiamat ini benar-benar terjadi. Stadium Generale kali ini membahas tentang masalah yang berkaitan dengan kerusakan ataupun kehancuran bumi dilihat dari sudut pandang ilmu pengetahuan.

     Pembahasan

Terdapat beberapa ramalan-ramalan yang dikaitkan dengan Kiamat 2012, salah satu ramalan yang terkenal yaitu ramalan Suku Maya “the return of Quetzacoatl”, yang menggambarkan bahwa akan terjadi kerusakan hebat di muka bumi akibat penyelerasan galaksi, dimana bumi, matahari, dan pusat bimasakti berada dalam posisi segaris. Di luar ramalan suku Maya yang belum diketahui dasar perhitungannya, fenomena yang dapat diprakirakan kemunculannya pada sekitar tahun 2011-2012 adalah badai Matahari. Badai matahari atau solar storm dapat menimbulkan ledakan energi yang cukup dahsyat ke arah bumi, yang kemudian akan mengganggu jalannya sistem sinyal elektronik yang sensitif, khususnya ponsel dan GPS. Para ahli menyatakan bahwa aktivitas semburan badai matahari (solar storm) ini terus meningkat setiap periodenya dan puncaknya akan terjadi pada tahun 2011 atau 2012. Solar storm adalah fenomena alam yang terjadi pada matahari ketika terlemparnya proton dan elektron akibat aktifitas magnetik matahari yang biasanya terjadi 11 tahun sekali. Akibat aktifitas magnetik tersebut, gelombang magnetik yang mengarah ke bumi menghalangi sinyal-sinyal komunikasi. Oleh karena itu, seluruh alat komunikasi yang menggunakan sinyal elektromagnetik tidak bisa berfungsi dengan baik. Fenomena ini dapat membahayakan kehidupan atau kesehatan manusia, bahkan juga sangat berpengaruh pada pembangkit listrik jika terus dinyalakan pada saat badai berlangsung karena medan magnet bumi yang tidak stabil. Jika pembangkit listrik tersebut rusak maka dibutuhkan waktu sekira 2 tahun untuk membangunnya kembali. Hal ini memaksa masyarakat untuk kembali hidup tanpa listrik hingga pembangkit listrik baru selesai dibangun. Menurut wikipedia, hal ini pernah terjadi di Quebec pada 13 maret 1989 dimana 6 juta orang hidup tanpa listrik selama 9 jam. Padahal puncak ledakan solar storm jika mengenai bumi bisa mencapai lebih dari 2 hari. Prediksi ini berdasarkan pemantauan pusat pemantau cuaca antariksa di beberapa negara sejak tahun 1960-an. Badai Matahari terjadi ketika muncul flare dan Coronal Mass Ejection (CME). Flare adalah ledakan besar di atmosfer Matahari yang dayanya setara dengan 66 juta kali ledakan bom atom Hiroshima. Adapun CME merupakan ledakan sangat besar yang menyebabkan lontaran partikel berkecepatan 400 kilometer per detik. Sebenarnya radiasi-radiasi dari matahari yang mengenai bumi ini sudah sering terjadi, tetapi bumi mempunyai pelindung yang dapat mencegah radiasi tersebut mengenai bumi secara langsung. Kejadian ini dapat dilihat di daerah sekitar kutub utara atau selatan yang memperlihatkan pemandangan cahaya, yang disebut dengan aurora. Kemunculan aurora adalah saat-saat dimana lapisan pelindung bumi menangkal radiasi dari matahari.

     Manfaat
Dengan adanya pembahasan isu-isu ini, kita dapat menyimpulkan bahwa ada kemungkinan kesalahan prediksi yang dilakukan oleh para ilmuwan. Sehingga, ada kemungkinan badai matahari itu tidak terjadi pada tahun 2012. Kita sebagai kaum terpelajar, sebaiknya harus bisa berpikir positif menanggapi isu-isu ini. Respon yang berlebihan hanya akan mengganggu aktifitas kita dalam kehidupan sehari-hari. Kita cukup menjalankan kehidupan sesuai dengan tujuan hidup masing-masing dan mencapai apa yang dicita-citakan.

No comments:

Post a Comment